Resiko Diabetes - Ada beberapa orang yang memang tidak terbiasa tidur malam dalam keadaan gelap. Tetapi tahukah anda kebiasaan seperti itu bisa menjadi faktor resiko terjadinya diabetes tipe 2. Selain bisa menghemat tagihan PLN, ternyata dengan hanya mematikan lampu saat tidur malam mampu memperbaiki status kesehatan kita. Menurut suatu penelitian terbaru
menunjukkan bahwa tidur dalam kondisi kamar terang benderang dapat
meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Penelitian mengenai hubungan antara tidur dengan kondisi kamar terang benderang dengan resiko diabetes tipe 2 ini dilakukan oleh Joshua Gooley, seorang ahli kesehatan dari
Harvard Medical School di Boston. Penelitian ini dilakukan dengan sample sebanyak 116 orang dalam usia 18-30 tahun. Mereka diikuti selam 5 hari berturut-turut selama masa penelitiannya. Selanjutnya partisipan ini dikelompokkan menjadi 2 group, yaitu kelompok 1 yang tidur di tempat yang gelap dengan durasi tidur selama 8 jam. Sedangkan kelompok kedua tidur selama 8 jam di ruangan yang terang benderang. Setelah itu mereka diukur tingkat kesehatannnya dengan menilai kadar hormon melatoninnya.
Hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil tiap 30 menit menunjukkan
produksi hormon melatonin turun 50 persen pada partisipan yang berada
di ruangan terang. Hormon ini mengatur jam biologis yang berhubungan
dengan siklus antara tertidur dan terbangun. Selain memicu rasa kantuk, melatonin juga berhubungan dengan beberapa
jenis penyakit serius. Reseptor melatonin yang terletak di saraf
disebut-sebut bisa meningkatkan risiko kanker dan diabetes tipe 2 jika
aktivitasnya berkurang. Jadi dalam jangka panjang tidur dengan lampu menyala akan memicu terjadinya kanker dan resiko diabetes tipe 2.
Selain itu penelitian ini juga memberikan penjelasan, kenapa orang yang bekerja malam hari dan tidur pada siang hari lebih rentan terkena kanker dan diabetes dalam jangka waktu lama. “Hasil penelitian ini memberikan dampak besar bagi pekerja malam yang
terpapar cahaya sepanjang malam lalu tidur siang saat matahari bersinar
terang,” ungkap Gooley seperti dikutip dari Healthday. Meski demikian, Gooley belum bisa menjelaskan dengan pasti hubungan
antara aktivitas reseptor melatonin dengan peningkatan risiko kanker dan
diabetes. Mekanisme yang menyebabkan keduanya saling berhubungan baru
akan diungkap dalam penelitian Gooley selanjutnya.
Jadi dengan menyimak penelitian awal dari Gooley tersebut apakah kita masih ingin tidur dengan lampu menyala? Apakah kita tetap ingin bekerja berlebihan di malam hari dan menggantinya dengan tidur di siang hari? Sebaiknya anda hindari kebiasaan tersebut kalau kita tidak ingin menderita kanker dan memiliki resiko diabetes yang lebih besar di kemudian hari.
Penyebab diabetes - Kita mungkin sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi. Kalau anda tipe orang yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi sebaiknya anda ubah segera kebiasaan anda. Karena menurut beberapa penelitian disebutkan bahwa mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di
depan televisi berisiko lebih besar mengalami kematian, mengidap penyakit jantung dan risiko untuk terkena diabetes tipe 2. Bahkan, dengan rutin menonton televisi
selama dua jam sehari pun bisa berdampak signifikan bagi kesehatan. Hal ini mungkin berhubungan dengan rendahnya aktivitas saat menonton TV.
Mungkin kita baru menyadari bahwa jam menonton Tv kita dan anak-anak kita yang berlebihan akan menyebabkan kita menderita berbagai macam penyakit yang berujung pada kematian. Setiap hari, penduduk di Amerika Serikat menghabiskan waktu rata-rata 5
jam untuk duduk di depan layar kaca, sementara orang Australia dan
beberapa orang Eropa menghabiskan antara 3,5 jam dan 4 jam sehari.
Data ini disampaikan para ahli dari Harvard School of Public Health. Sementara data di Indonesia belum terdokumentasi dengan baik, mungkin saja jam menonton TV orang Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Hal ini terutama terjadi pada anak-anak.
Salah seorang peneliti mengungkapkan bahwa menonton Tv membuat kita duduk secara terus menerus dan badan kurang bergerak. Mengurangi waktu menonton TV adalah cara
penting untuk mengurangi kebiasaan duduk secara terus-menerus dan
mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung,” kata Frank Hu, salah
seorang peneliti. Dia menambahkan, orang yang duduk di depan televisi tidak hanya
menjadi kurang berolahraga, tetapi juga cenderung menyantap makanan
tidak sehat. “Kombinasi gaya hidup banyak duduk, pola makan tidak sehat,
dan obesitas menciptakan ‘daerah pembiakan sempurna’ untuk diabetes
tipe 2 dan penyakit jantung,” tuturya.
Ini bukan penelitian pertama yang menghubungkan durasi menonton TV
dengan penyakit. Banyak penelitian menemukan hubungan yang kuat antara
menonton televisi dan obesitas, dan sebuah laporan pada 2007 menemukan
bahwa waktu menonton TV berhubungan dengan tekanan darah tinggi dan
obesitas anak-anak.
Penelitian lain pada tahun sama menemukan, anak-anak dengan kategori
overweight yang menonton iklan makanan cenderung menggandakan asupan
makanan mereka.
Untuk keperluan penelitian terbaru ini, Hu dan timnya mengkaji 8
penelitian yang menguji hubungan antara durasi menonton televisi dan
penyakit. Penelitian yang dipublikasikan Journal of the American
Medical Association itu melibatkan lebih dari 200.000 orang dalam jangka
waktu 7 hingga 10 tahun. Hu dan para koleganya menemukan, untuk setiap dua jam sehari menonton
televisi, risiko mengidap diabetes meningkat 20 persen, sedangkan
risiko penyakit jantung naik 15 persen. Menonton televisi dua jam setiap
hari juga dapat meningkatkan risiko kematian sebanyak 13 persen.
Berdasarkan temuan itu, Hu dan timnya memperkirakan, di antara
100.000 orang, membatasi waktu menonton televisi hingga 2 jam dapat
mencegah 176 kasus baru diabetes, 38 kasus penyakit kardiovaskuler
fatal, dan 104 kematian dini setiap tahun. Peneliti mengingatkan, hasil riset ini tidak serta merta membuktikan
bahwa menonton TV adalah satu-satunya faktor yang meningkatkan risiko
penyakit. “Benar bahwa antara mereka yang banyak menonton TV dan mereka
yang menonton dalam waktu lebih sedikit memiliki perbedaan terutama
dalam hal pola makan dan tingkat aktivitas fisik,” kata Hu.
Disamping itu menonton Tv yang berlebihan juga berisiko untuk mengkonsumsi makanan yang tidak bersih. Pola makan yang tidak baik dan aktivitas yang rendah menjadi penyebab diabetes yang berhubungan dengan menonton Tv yang berkepanjangan. Jadi dengan berpegang pada penelitian ini kita bisa membayangkan betapa buruknya kebiasaan menonton TV selama berjam-jam setiap harinya. Sebaiknya kita memanfaatkan waktu luang kita dengan melakukan aktivitas yang menggerakkan tubuh. Lakukan olahraga, aktivitas yang menyenangkan seperti jalan-jalan, berkebun, berenang atau aktivitas lainnya akan membantu anda keluar dari kecanduan televisi. Dengan demikian secara tidak langsung anda sudah mengurangi penyebab diabetes dalam hidup anda.
Diabetes atau penyakit gula darah merupakan suatu keadaan dimana kadar gula di dalam darah meningkat lebih dari normal yang bisa diakibatkan oleh gangguan pada pankreas atau akibat gangguan pada reseptor insulin pada tingkat sel. Tipe diabetes dibedakan menjadi 2 secara umum yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2, disamping itu juga terdapat diabetes gestasional yang akan kita bahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya. Tipe diabetes yang paling umum adalah diabetes tipe 2, berikut kita akan bahas secara lengkap mengenai seluk beluk diabetes tipe 2.
Definisi Diabetes tipe 2 Diabetes tipe 2 adalah penyakit seumur hidup yang
ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak memberikan respon secara benar terhadap rangsangan insulin, yaitu sebuah hormon yang dilepaskan oleh
pankreas. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dan paling banyak jumlahnya di seluruh dunia.
Penyebab Diabetes Tipe 2 Diabetes terjadi karena adanya gangguan dalam memproduksi dan mempergunakan insulin oleh tubuh kita. Insulin
diperlukan untuk memindahkan glukosa (gula darah) ke dalam sel, di mana glukosa ini digunakan oleh tubuh kita untuk sumber energi. Jika glukosa
tidak masuk ke dalam sel, tubuh tidak dapat menggunakannya untuk
energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas kehidupan. Kadar glukosa yang terlalu banyak akan beredar di dalam darah kita menyebabkan berbagai gejala diabetes. Ada beberapa jenis
diabetes yang selama ini dikenal. Artikel ini
akan berfokus pada diabetes Tipe 2, yang biasanya disertai dengan gejala obesitas dan
resistensi insulin. Resistensi insulin berarti insulin yang
diproduksi oleh pankreas tidak bisa masuk ke dalam sel-sel lemak
dan otot untuk menghasilkan energi. Karena sel-sel tidak mendapatkan insulin yang mereka butuhkan,
pankreas terus memproduksi insulin, sehingga jumlahnya berlebihan di dalam tubuh kita. Seiring waktu, maka kadar gula darah pun akan semakin tinggi beredar di dalam darah kita (karena glukosa yang seharusnya dimasukkan ke dalam sel tetap beredar di dalam darah). Keadaan meningkatnya kadar gula di dalam darah disebut dengan hiperglikemia. Banyak orang dengan resistensi
insulin menderita hiperglikemia dan kadar insulin yang tinggi juga. Orang yang kelebihan berat badan
memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya resistensi insulin, karena lemak
mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin. Diabetes tipe 2
biasanya terjadi secara perlahan-lahan. Kebanyakan orang
dengan penyakit kelebihan berat badan atau obesitas secara tidak sengaja juga terdiagnose diabetes tipe 2 saat cek up rutin. Namun, diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada orang yang kurus, terutama pada orang tua. Riwayat keluarga dan genetika memainkan peran besar dalam
terjadinya diabetes tipe 2. Tingkat aktivitas yang rendah, pola makan
yang buruk, dan kelebihan berat badan (terutama di sekitar pinggang)
secara signifikan meningkatkan risiko untuk terjadinya diabetes tipe 2. Faktor Risiko Lain Terjadinya Diabetes Tipe 2
Beberapa faktor risiko lain untuk terjadinya diabetes tipe 2, meliputi:
Ras / etnis
(Afrika-Amerika, Hispanik-Amerika, dan penduduk asli Amerika semua
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya diabetes)
Usia lebih dari 45 tahun
Sebelumnya teridentifikasi mengalami gangguan toleransi glukosa
Tekanan darah tinggi
HDL kolesterol kurang dari 35 mg / dL atau
tingkat trigliserida lebih besar dari 250 mg / dL
Riwayat menderita diabetes gestational
Gejala Diabetes Tipe 2 Seringkali, orang dengan
diabetes tipe 2 tidak memiliki gejala sama sekali. Tetapi pada kebanyakan kasus diabetes tipe 2 akan menunjukkan gejala, seperti:
Haus yang berlebihan
Sering buang air kecil
Peningkatan nafsu makan
Kelelahan
Pandangan kabur
Sering terjadi infeksi atau terjadi luka yang lambat menyembuh
Disfungsi ereksi
Tes Darah Untuk Mendiagnosa Diabetes Tipe 2 Diabetes tipe 2
didiagnosis dengan melakukan tes darah berikut:
Kadar glukosa darah puasa - diabetes
didiagnosis jika lebih tinggi dari 126 mg / dL pada 2 kesempatan.
Kadar gula darah acak (non-puasa) - diabetes diduga jika kadar gula lebih tinggi dari 200 mg / dL dan
disertai dengan gejala klasik berupa rasa haus yang sering, sering buang air kecil,
dan kelelahan (tes ini harus dikonfirmasi dengan tes glukosa darah
puasa).
Tes toleransi glukosa oral - diabetes didiagnosis jika tingkat
glukosa lebih tinggi dari 200 mg / dL setelah 2 jam pemberian glukosa
Pengobatan Diabetes Tipe 2 Tujuan
pertama pengobatan diabets tipe 2 adalah untuk menghilangkan gejala dan menstabilkan kadar
glukosa di dalam darah. Tujuan berikutnya adalah untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memperpanjang
hidup Anda. Pengobatan utama untuk diabetes tipe 2
adalah olahraga dan diet.
Pelajari Hal-hal Dibawah ini Jika Anda Menderita Diabetes Anda harus belajar keterampilan manajemen
dasar diabetes. Karena hal ini akan membantu anda mencegah
komplikasi dan akibat buruk dari diabetes. Keterampilan management diabetes yang dimaksud meliputi:
* Bagaimana untuk melakukan tes gula darah dan melakukan pencatatan glukosa darah anda
* Apa yang harus anda makan dan kapan waktu yang tepat * Cara untuk minum
obat, jika diindikasikan * Bagaimana mengenali dan mengobati
kadar gula darah yang terlalu rendah atau terlalu tinggi * Bagaimana menangani saat muncul komplikasi akut diabetes * Membeli persediaan diabetes dan bagaimana menyimpannya Mungkin
diperlukan waktu beberapa bulan untuk mempelajari keterampilan dasar tersebut. Kita harus tetap belajar dan memotivasi diri kita untuk lebih mengenali penyakit diabetes, mengatasi komplikasinya,bagaimana mengontrol diabets dan hidup sehat dengan diabetes. Pengecekan Kadar Gula Darah Secara Mandiri Pengecekan kadar gula darah secara mandiri dan rutin akan membantu anda untuk mengetahui seberapa baik management diabetes (kombinasi dari diet,
olahraga, dan pengobatan) anda bekerja. Tes gula darah mandiri biasanya dilakukan sebelum makan
dan sebelum tidur. Pengecekan bisa dilakukan lebih sering jika anda dalam kondisi sakit atau kadar gula darah anda dibawah nilai normal. Suatu alat sederhana yang disebut glucometer dapat memberikan data mengenai kadar
gula darah yang tepat. Ada berbagai jenis alat yang beredar di pasaran, anda bisa membaca panduan memilih alat pengukur kadar gula darah mandiri pada artikel lain di blog ini. Biasanya, Anda cukup menusuk ujung jari anda dengan jarum
kecil yang disebut lanset, kemudian jari tersebut dipencet sehingga didapatkan setetes kecil darah. Darah tersebut anda tempatkan pada strip tes yang telah dimasukkan ke dalam alat glucometer. Berikutnya akan kami tunjukkan video mengenai cara mengukur kadar gula darah secara mandiri. Hasil akan muncul dalam hitungan waktu 30 sampai 45 detik.
Sebaiknya anda belajar kepada dokter anda terlebih dahulu mengenai cara untuk melakukan tes ini, dan cara menanggapi hasil tes gula darah ini. Apa yang anda harus lakukan jika kadar gula darah anda berlebihan, dan apa yang harus anda lakukan segera saat kadar gula darah anda sangat rendah. Hasil
tes dapat digunakan untuk mengatur makanan, aktivitas, atau obat-obatan
untuk menjaga kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Tes ini juga berguna bagi anda dan dokter anda untuk mengidentifikasi kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu
rendah sebelum masalah serius berkembang. Catatlah kadar gula darah anda dalam suatu buku khusus, sehingga anda dapat merencanakan cara terbaik untuk mengontrol
diabetes Anda. DIET
DAN PENGENDALIAN BERAT BADAN UNTUK MENGONTROL DIABETES Perencanaan makan yang dimaksud disini meliputi cara memilih makanan
yang sehat, makan dalam jumlah yang tepat, dan makan
makanan pada waktu yang tepat. Anda harus bekerja sama dengan
penyedia layanan kesehatan anda untuk mengetahui berapa banyak lemak,
protein, dan karbohidrat yang anda butuhkan dalam makanan anda. Rencana diet diabetes anda ini harus anda sesuaikan juga dengan
kebiasaan makanan dan selera makan anda. Menjaga berat badan ideal dan makan makanan yang seimbang adalah hal yang sangat
penting bagi penderita diabetes tipe 2. Beberapa orang dengan diabetes tipe 2 dapat bebas dari pengobatan setelah melakukan penurunan berat badan yang terukur, meskipun
diabetes masih ada. Konsultasikan pada dokter anda seberapa banyak makanan dan bagaimana pengaturannya pada dokter anda. Anda juga perlu berkonsultasi mengenai rencana penurunan berat badan anda pada dokter anda. Melakukan Latihan Fisik Secara Rutin Olahraga teratur merupakan hal penting bagi semua orang, terutama jika anda menderita
diabetes. Olahraga teratur membantu mengontrol jumlah
glukosa dalam darah. Hal ini juga membantu
membakar kelebihan kalori dan lemak sehingga anda dapat mengelola berat
badan Anda. Latihan meningkatkan
kesehatan secara keseluruhan dengan meningkatkan aliran darah dan
menjaga tekanan darah tetap normal. Olahraga rutin juga dapat mengurangi resistensi insulin bahkan tanpa
harus menurunkan berat badan. Latihan juga meningkatkan energi tubuh, menurunkan
ketegangan, dan meningkatkan kemampuan anda untuk menangani stres. Hal-hal yang harus dipertimbangkan ketika memulai latihan
rutin:
Konsultasikan dengan dokter anda sebelum memulai program olahraga.
Pilih aktivitas fisik yang menyenangkan yang
sesuai untuk tingkat kebugaran anda.
Latihan setiap
hari, dan pada waktu yang sama harinya, jika memungkinkan.
Monitor kadar glukosa darah sebelum dan sesudah
latihan.
Bawalah makanan yang mengandung karbohidrat sehingga anda dapat melakukan penanganan yang cepat jika mengalami hipoglikemia selama atau
setelah latihan
Minum cairan
tambahan yang tidak mengandung gula sebelum, selama, dan setelah
berolahraga.
Perubahan dalam
intensitas atau durasi latihan mungkin memerlukan modifikasi diet atau
obat-obatan untuk menjaga kadar glukosa darah dalam kisaran normal.
PENGOBATAN DIABETES TIPE 2 Ketika diet dan olahraga
tidak mampu menjaga kadar glukosa darah anda menjadi normal atau mendekati normal,
dokter akan mulai melakukan pemberian obat-obatan. Beberapa jenis obat yang paling umum
diberikan oleh dokter anda, adalah obata-obatan seperti dibawah ini:
Sulfonilurea (seperti
glimepiride, glyburide, dan tolazamide) memicu pankreas untuk membuat
insulin lebih banyak.
Biguanides (Metformin)
memicu hati untuk mengurangi produksi glukosa, yang meningkatkan
kadar glukosa dalam aliran darah.
Alpha-glucosidase inhibitor (seperti acarbose) menurunkan penyerapan karbohidrat dari
saluran pencernaan, sehingga menurunkan kadar glukose setelah makan.
Thiazolidinediones (seperti rosiglitazone) yang berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas sel
(responsiveness) terhadap insulin.
Meglitinides (termasuk repaglinide dan Nateglinide) memicu
pankreas untuk membuat insulin lebih banyak disesuaikan dengan kadar
glukosa dalam darah.
Jika dengan melakukan perubahan gaya hidup
dan pemberian obat-obatan seperti diatas tidak membantu anda dalam mengendalikan kadar gula anda, maka dokter akan mulai mempertimbangkan untuk meresepkan
insulin. Insulin juga dapat diberikan
jika anda memiliki reaksi buruk terhadap obat-obatan lainnya. Insulin harus disuntikkan di bawah kulit
menggunakan jarum suntik khusus dan tidak dapat diberikan lewat mulut (tablet). Ada beberapa jenis insulin yang sering diresepkan oleh dokter anda. Ada beberapa tipe insulin, biasanya dibedakan berdasarkan seberapa cepat
mereka mulai bekerja dan berapa lama mereka bekerja. Dokter anda akan menentukan jenis insulin yang tepat sesuai dengan kondisi anda dan
akan memberitahu waktu yang tepat untuk menggunakannya. Lebih dari satu jenis insulin dapat
dicampur dalam suntikan untuk mencapai kontrol glukosa
darah terbaik. Biasanya suntikan dibutuhkan satu sampai empat kali
sehari. Dokter atau pendidik diabetes
akan menunjukkan kepada Anda bagaimana melakukan
suntikan tersebut. Berikut adalah video contoh melakukan penyuntikan insulin.
Perawatan Kaki Pada Penderita Diabetes Tipe 2 Orang dengan
diabetes rentan terhadap masalah kaki. Diabetes dapat
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah anda, sehingga kulit kaki anda menjadi tidak sensitif terhadap rangsangan nyeri. Anda mungkin tidak menyadari kalau kaki anda terluka, sampai luka membesar atau muncul gejala infeksi. Diabetes juga dapat merusak pembuluh
darah, yang membuat tubuh lebih sulit untuk melawan infeksi. Untuk
mencegah cedera pada kaki, orang dengan diabetes harus membiasakan diri untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan kaki sebagai berikut:
* Periksa kaki Anda setiap hari, periksa ke dokter jika terjadi luka atau muncul tanda-tanda infeksi. * Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun kemudian keringkan seluruhnya. * Oleskan pelembab kulit atau body lotion. * Lindungi kaki pakai sepatu dan alas kaki yang pas * Latihan pada kaki untuk meningkatkan sirkulasi darah padakaki * Hubungi dokter bedah anda jika ada benjolan atau kapalan pada kaki anda * Berhenti merokok
karena memperburuk aliran darah ke kaki. Kapan Kontrol Ke Dokter Ahli Diabetes? Seseorang dengan diabetes tipe 2 harus
memiliki jadwal kunjungan yang rutin pada dokter penyakit dalam atau ahli endokrin setidaknya setiap 3 bulan. Biasanya dokter anda akan melakukan beberapa pemeriksaan, yang
meliputi pemeriksaan:
Hemoglobin
glikosilasi (HbA1c) adalah rata-rata kadar gula darah anda dalam 3 bulan. Tes ini mengukur seberapa banyak glukosa
telah menempel ke sel-sel darah merah dan sel-sel lainnya. Kadar HbA1c yang tinggi merupakan indikator untuk terjadinya risiko
komplikasi jangka panjang yang lebih tinggi. Saat ini, ADA merekomendasikan HbA1c kurang dari 7%
untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan kaki dan kulit
Pemeriksaan mata
Pemeriksaan Neurologis
Evaluasi
berikut harus dilakukan setidaknya setahun sekali:
* microalbumin acak (tes kadar protein urine) * BUN dan serum kreatinin * Serum kolesterol,
HDL, dan trigliserida * EKG * Retina dilated test Prognosis Diabetes Tipe 2 Risiko komplikasi diabetes jangka panjang dapat
dikurangi jika anda dapat mengontrol glukosa darah
dan tekanan darah dengan baik. Anda dapat mengurangi risiko kematian, stroke, gagal
jantung, dan komplikasi lainnya dengan mengendalikan kedua hal tersebut. Pengurangan kadar
HbA1c sebanyak 1% saja dapat menurunkan risiko komplikasi sebesar 25%.
Komplikasi Diabetes Tipe 2 Komplikasi diabetes dapat dibedakan menjadi 2, yaitu komplikasi yang memerlukan penangan segera dan komplikasi yang muncul secara perlahan-lahan.
Komplikasi
yang memerlukan penangan darurat meliputi syok hipoglikemia dan koma diabetes.Komplikasi jangka panjang termasuk:
* Diabetes retinopati
(penyakit mata) * Diabetes nefropati (penyakit ginjal) * Diabetes neuropati
(kerusakan saraf) * Peripheral vascular
disease (kerusakan pembuluh darah / sirkulasi) * Kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi,
atherosclerosis, dan penyakit arteri koroner Kapan anda harus segera datang ke UGD?Segera bawa diri anda ke UGD atau ke dokter anda jika Anda mengalami: * Gemetar * Kelemahan * Mengantuk *
Sakit kepala * Kebingungan * Pusing * Pandangan dobel
*
Kurangnya koordinasi Gejala-gejala ini dapat dengan
cepat berkembang menjadi kondisi darurat (seperti kejang-kejang,
pingsan, atau koma hipoglikemik).
Pencegahan Diabetes Tipe 2 Setiap orang yang berumur lebih dari 45 tahun harus rutin melakukan pemeriksaan glukosa darah setidaknya setiap 3 tahun. Pengujian rutin
glukosa darah acak harus dimulai pada usia muda dan dilakukan lebih
sering jika anda memiliki risiko untuk terjadinya diabetes. Menjaga berat badan yang ideal dan menjaga gaya hidup yang aktif akan membantu anda mencegah timbulnya
diabetes tipe 2.