Mencegah Diabetes - Tipe diabetes tertentu berhubungan erat dengan proses autoimun, dimana terjadi pembentukan antibodi terhadap tubuh sendiri. Diabetes tipe 1 merupakan tipe diabetes yang dipercaya diakibatkan oleh proses autoimun ini. Dalam keadaan normal antibodi yang terbentuk di tubuh kita akan menyerang antigen asing yang berpotensi menimbulkan penyakit pada tubuh kita. Namun pada situasi tertentu antibodi ini malah mengenali tubuh sendiri sebagai benda asing dan antibodi ini menyerang tubuh kita sendiri. Penyimpangan ini bisa diakibatkan oleh faktor genetik dan beberapa makanan dan faktor lingkungan. Menurut penelitian, konsumsi susu formula sejak dini akan meningkatkan resiko terjadinya reaksi autoimun ini. Mereka yang mengkonsumsi susu formula sedari awal akan lebih rentan untuk menderita diabetes melitus daripada mereka yang mendapatkan ASI.
ASI pertama yang disebut kolustrum memberikan daya imunitas yang baik bagi bayi. Memang sudah dikodratkan bahwa ASI sebagai makanan cair bayi baru lahir memang lebih sesuai
dibandingkan susu sapi. Masalahnya, dalam susu sapi terdapat paling
sedikit 20 macam protein asing. Lima protein di antaranya bersifat
alergenik (dapat menimbulkan reaksi alergi). Namun belum jelas antigen
protein mana pada susu sapi yang sangat mirip dengan antigen protein sel
Langerhans pada pankreas manusia. Jadi pemberian ASI sedari awal akan mengurangi potensi alergenik pada bayi kita.
Yang jelas dengan pemberian susu formula yang mengandung antigen susu
sapi, tubuh bayi berespons menghasilkan antibodi susu sapi. Karena
antigen tersebut sangat mirip dengan antigen protein sel Langerhans,
antibodi anti-antigen susu sapi ini juga akan menyerang antigen protein
sel Langerhans. Maka dikhawatirkan bisa timbul kerusakan pada sel
Langerhans karena penyakit autoimun ini. Sel Langerhans sendiri merupakan bagian dari pankreas yang ikut berperan dalam menghasilkan hormon insulin, yaitu hormon yang meregulasi gula darah di dalam tubuh kita. Gangguan pada sel langerhans berarti terjadi gangguan pada proses pembentukan insulin, yang bisa berakibat terjadinya diabetes tipe 1
Sedangkan kerusakan sel Langerhans pada usia lanjut karena faktor
degeneratif sering dihubungkan dengan terbentuknya radikal bebas.
Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil yang telah kehilangan
pasangan elektronnya dan sangat reaktif serta terkenal sebagai penyebab
utama mutasi genetik melalui mekanisme yang diinduksi oleh perubahan
lingkungan hidup. Molekul radikal bebas ini bagaikan ikan hiu yang
kelaparan dan baru stabil bila memangsa sel-sel di sekitarnya. Radikal
bebas bukan makhluk hidup seperti virus atau bakteri yang terdiri dari
sejumlah molekul tetapi radikal bebas merupakan satu molekul yang
besarnya jauh lebih kecil dari virus atau bakteri. Jadi pada orang berusia lanjut memiliki mekanisme berbeda untuk terjadinya diabetes tipe 1 dibandingkan dengan anak-anak atau bayi.
Molekul radikal bebas yang menempel pada membran sel menyebabkan
membran sel menjadi kaku sehingga fungsinya sebagai filter yang
menyeleksi bahan-bahan yang masuk ke dalam sel atau yang dikeluarkan
dari dalam sel menjadi terganggu. Akibatnya, sel mudah mati karena hasil
metabolisme terus tertimbun dalam sel (sulit dikeluarkan) dan bahan
yang dibutuhkan sel sulit masuk ke dalam sel.
Penyebab terbentuknya radikal bebas bisa karena stres, radiasi,
merokok atau menghirup asam rokok, udara berpolusi serta makanan
berlemak yang digoreng atau dipanggang dan minuman yang terkontaminasi
pestisida atau klor.
Faktor stres bisa menyebabkan kadar gula darah tiba-tiba meningkat,
karena bisa terbentuk radikal bebas yang merusak sel Langerhans atau
karena stres memacu pengeluaran hormon adrenalin. Hormon adrenalin ini
mengubah cadangan glikogen dalam hati menjadi glukosa sehingga kadar
gula segera meningkat. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan darah saja sebetulnya belum dapat
disimpulkan seseorang menderita DM, karena masih ada lagi gejala “4
banyak” yang menyertainya, yakni banyak minum, banyak makan, banyak
kencing, dan banyak keringat.
Jadi menurut data diatas kita sebaiknya memberikan ASI kepada bayi kita agar dia memiliki resiko yang lebih rendah untuk menderita diabetes. Sedangkan bagi orang yang berusia lanjut sebaiknya menghindari faktor-faktor yang bisa menghasilkan radikal bebas, seperti stress, bahan kimia tertentu, polusi, dan makanan-makanan tertentu. Mari kita mencegah diabetes sedini mungkin.
Pemberian lemak omega 3 secara teratur ternyata dapat menurunkan risiko menderita diabetes tipe 1 pada anak yang beresiko tinggi. Hal ini diungkapkan pada suatu penelitian pendahuluan yang dikeluarkan oleh Jurnal
Asosiasi Medis Amerika (Journal of the American Medical
Association/JAMA). Menurut penulis. diabetes tipe 1 merupakan suatu penyakit autoimun yang menyerang sel-sel beta pankreas yang berfungsi sebagai penghasil insulin. Autoimun berarti kekebalan tubuhnya mengenali tubuh sendiri sebagai suatu benda asing, sehingga sistem imun malah menyerang tubuh sendiri. Penyebab dari keadaan autoimun ini tidak diketahui dengan pasti, namun diduga ada hubungannya dengan faktor lingkungan dan genetik.
Dalam penelitian mereka juga terungkap bahwa ada beberapa makanan yang berhubungan dengan terjadinya diabetes tipe 1. Makanan tertentu juga diduga dapat memicu proses autoimun yang kemudian menyebabkan diabetes tipe 1 tersebut. Penelitian ini melibatkan sebanyak 1770 anak sebagai sample penelitian dan dilakukan selama kurun waktu 1994-2006. Anak-anak yang dipilih sebagai subyek penelitian ini semuanya memiliki resiko tinggi untuk terjadinya diabetes tipe 1, seperti memiliki saudara kandung dan oran tua yang menderita diabetes tipe 1. Mereka yang memiliki genotipe HLA (human leucocyte antigen) yang memiliki resiko tinggi menjadi diabetes juga ikut dimasukkan dalam penelitian ini.
Mereka diikuti sampai rata-rata 6,2 tahun kemudian, kemudian autoimun pankreas diperiksa dalam kaitannya dengan asupan asam lemak
tidak jenuh ganda yang dimulai sejak usia 1 tahun. Sumber utama asam
lemak tak jenuh ganda dari laut adalah ikan laut. Peneliti mengukur makanan
anak-anak menggunakan kuesioner frekuensi makanan.
Sebuah studi Cohort yang melibatkan 244 anak-anak juga dilakukan
dimana diukur risiko diabetes (IA) akibat kandungan asam lemak tak jenuh
ganda pada membran eritrosit (bagian terluar dari sel darah merah).
Setelah ditindaklanjuti, 58 anak menjadi positif IA. Menyesuaikan
tipe HLA, prevalensi diabetes tipe 1 dalam keluarga, total kalori yang
diminum dan total asam lemak omega-6, total asam lemak omega-3
menurunkan risiko IA sebanyak 55%. Hubungannya bahkan lebih kuat ketika
hasilnya didefinisikan terbatas kepada mereka yang positif dua atau
lebih autoantibodi. Penulis menyimpulkan,”Studi kami menyarankan bahwa konsumsi asam
lemak omega-3 yang lebih banyak berhubungan dengan penurunan risiko IA
pada anak-anak berisiko tinggi diabetes tipe1 secara genetik.”
Nah dari penelitian ini dapat kita ambil intinya bahwa dengan memperbanyak konsumsi asam lemak omega 3 yang banyak terdapat pada makanan alami baik nabati dan hewani dari laut, seperti: ikan lemuru, tuna, tongkol, sidat, terubuk, tengiri, dan yang dikatakan kandungannya paling tinggi adalah pada toro atau bagian perut ikan tuna. Jadi kalau ada anak dengan resiko tinggi akan menderita diabetes tipe 1 (riwayat keluarga menderita diabetes) sebaiknya dari awal kita menambahkan bahan makanan tersebut diatas ke dalam menu makanan mereka. Selain itu, kita bisa memilih beberapa jenis makanan yang bisa menurunkan resiko diabetes yang lainnya. Dengan mengkonsumsinya secara teratur kita berharap tidak berkembang menjadi diabetes tipe 1.
Diabetes atau penyakit gula darah merupakan suatu keadaan dimana kadar gula di dalam darah meningkat lebih dari normal yang bisa diakibatkan oleh gangguan pada pankreas atau akibat gangguan pada reseptor insulin pada tingkat sel. Tipe diabetes dibedakan menjadi 2 secara umum yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2, disamping itu juga terdapat diabetes gestasional yang akan kita bahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya. Tipe diabetes yang paling umum adalah diabetes tipe 2, berikut kita akan bahas secara lengkap mengenai seluk beluk diabetes tipe 2.
Definisi Diabetes tipe 2 Diabetes tipe 2 adalah penyakit seumur hidup yang
ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak memberikan respon secara benar terhadap rangsangan insulin, yaitu sebuah hormon yang dilepaskan oleh
pankreas. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dan paling banyak jumlahnya di seluruh dunia.
Penyebab Diabetes Tipe 2 Diabetes terjadi karena adanya gangguan dalam memproduksi dan mempergunakan insulin oleh tubuh kita. Insulin
diperlukan untuk memindahkan glukosa (gula darah) ke dalam sel, di mana glukosa ini digunakan oleh tubuh kita untuk sumber energi. Jika glukosa
tidak masuk ke dalam sel, tubuh tidak dapat menggunakannya untuk
energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas kehidupan. Kadar glukosa yang terlalu banyak akan beredar di dalam darah kita menyebabkan berbagai gejala diabetes. Ada beberapa jenis
diabetes yang selama ini dikenal. Artikel ini
akan berfokus pada diabetes Tipe 2, yang biasanya disertai dengan gejala obesitas dan
resistensi insulin. Resistensi insulin berarti insulin yang
diproduksi oleh pankreas tidak bisa masuk ke dalam sel-sel lemak
dan otot untuk menghasilkan energi. Karena sel-sel tidak mendapatkan insulin yang mereka butuhkan,
pankreas terus memproduksi insulin, sehingga jumlahnya berlebihan di dalam tubuh kita. Seiring waktu, maka kadar gula darah pun akan semakin tinggi beredar di dalam darah kita (karena glukosa yang seharusnya dimasukkan ke dalam sel tetap beredar di dalam darah). Keadaan meningkatnya kadar gula di dalam darah disebut dengan hiperglikemia. Banyak orang dengan resistensi
insulin menderita hiperglikemia dan kadar insulin yang tinggi juga. Orang yang kelebihan berat badan
memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya resistensi insulin, karena lemak
mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin. Diabetes tipe 2
biasanya terjadi secara perlahan-lahan. Kebanyakan orang
dengan penyakit kelebihan berat badan atau obesitas secara tidak sengaja juga terdiagnose diabetes tipe 2 saat cek up rutin. Namun, diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada orang yang kurus, terutama pada orang tua. Riwayat keluarga dan genetika memainkan peran besar dalam
terjadinya diabetes tipe 2. Tingkat aktivitas yang rendah, pola makan
yang buruk, dan kelebihan berat badan (terutama di sekitar pinggang)
secara signifikan meningkatkan risiko untuk terjadinya diabetes tipe 2. Faktor Risiko Lain Terjadinya Diabetes Tipe 2
Beberapa faktor risiko lain untuk terjadinya diabetes tipe 2, meliputi:
Ras / etnis
(Afrika-Amerika, Hispanik-Amerika, dan penduduk asli Amerika semua
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya diabetes)
Usia lebih dari 45 tahun
Sebelumnya teridentifikasi mengalami gangguan toleransi glukosa
Tekanan darah tinggi
HDL kolesterol kurang dari 35 mg / dL atau
tingkat trigliserida lebih besar dari 250 mg / dL
Riwayat menderita diabetes gestational
Gejala Diabetes Tipe 2 Seringkali, orang dengan
diabetes tipe 2 tidak memiliki gejala sama sekali. Tetapi pada kebanyakan kasus diabetes tipe 2 akan menunjukkan gejala, seperti:
Haus yang berlebihan
Sering buang air kecil
Peningkatan nafsu makan
Kelelahan
Pandangan kabur
Sering terjadi infeksi atau terjadi luka yang lambat menyembuh
Disfungsi ereksi
Tes Darah Untuk Mendiagnosa Diabetes Tipe 2 Diabetes tipe 2
didiagnosis dengan melakukan tes darah berikut:
Kadar glukosa darah puasa - diabetes
didiagnosis jika lebih tinggi dari 126 mg / dL pada 2 kesempatan.
Kadar gula darah acak (non-puasa) - diabetes diduga jika kadar gula lebih tinggi dari 200 mg / dL dan
disertai dengan gejala klasik berupa rasa haus yang sering, sering buang air kecil,
dan kelelahan (tes ini harus dikonfirmasi dengan tes glukosa darah
puasa).
Tes toleransi glukosa oral - diabetes didiagnosis jika tingkat
glukosa lebih tinggi dari 200 mg / dL setelah 2 jam pemberian glukosa
Pengobatan Diabetes Tipe 2 Tujuan
pertama pengobatan diabets tipe 2 adalah untuk menghilangkan gejala dan menstabilkan kadar
glukosa di dalam darah. Tujuan berikutnya adalah untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memperpanjang
hidup Anda. Pengobatan utama untuk diabetes tipe 2
adalah olahraga dan diet.
Pelajari Hal-hal Dibawah ini Jika Anda Menderita Diabetes Anda harus belajar keterampilan manajemen
dasar diabetes. Karena hal ini akan membantu anda mencegah
komplikasi dan akibat buruk dari diabetes. Keterampilan management diabetes yang dimaksud meliputi:
* Bagaimana untuk melakukan tes gula darah dan melakukan pencatatan glukosa darah anda
* Apa yang harus anda makan dan kapan waktu yang tepat * Cara untuk minum
obat, jika diindikasikan * Bagaimana mengenali dan mengobati
kadar gula darah yang terlalu rendah atau terlalu tinggi * Bagaimana menangani saat muncul komplikasi akut diabetes * Membeli persediaan diabetes dan bagaimana menyimpannya Mungkin
diperlukan waktu beberapa bulan untuk mempelajari keterampilan dasar tersebut. Kita harus tetap belajar dan memotivasi diri kita untuk lebih mengenali penyakit diabetes, mengatasi komplikasinya,bagaimana mengontrol diabets dan hidup sehat dengan diabetes. Pengecekan Kadar Gula Darah Secara Mandiri Pengecekan kadar gula darah secara mandiri dan rutin akan membantu anda untuk mengetahui seberapa baik management diabetes (kombinasi dari diet,
olahraga, dan pengobatan) anda bekerja. Tes gula darah mandiri biasanya dilakukan sebelum makan
dan sebelum tidur. Pengecekan bisa dilakukan lebih sering jika anda dalam kondisi sakit atau kadar gula darah anda dibawah nilai normal. Suatu alat sederhana yang disebut glucometer dapat memberikan data mengenai kadar
gula darah yang tepat. Ada berbagai jenis alat yang beredar di pasaran, anda bisa membaca panduan memilih alat pengukur kadar gula darah mandiri pada artikel lain di blog ini. Biasanya, Anda cukup menusuk ujung jari anda dengan jarum
kecil yang disebut lanset, kemudian jari tersebut dipencet sehingga didapatkan setetes kecil darah. Darah tersebut anda tempatkan pada strip tes yang telah dimasukkan ke dalam alat glucometer. Berikutnya akan kami tunjukkan video mengenai cara mengukur kadar gula darah secara mandiri. Hasil akan muncul dalam hitungan waktu 30 sampai 45 detik.
Sebaiknya anda belajar kepada dokter anda terlebih dahulu mengenai cara untuk melakukan tes ini, dan cara menanggapi hasil tes gula darah ini. Apa yang anda harus lakukan jika kadar gula darah anda berlebihan, dan apa yang harus anda lakukan segera saat kadar gula darah anda sangat rendah. Hasil
tes dapat digunakan untuk mengatur makanan, aktivitas, atau obat-obatan
untuk menjaga kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Tes ini juga berguna bagi anda dan dokter anda untuk mengidentifikasi kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu
rendah sebelum masalah serius berkembang. Catatlah kadar gula darah anda dalam suatu buku khusus, sehingga anda dapat merencanakan cara terbaik untuk mengontrol
diabetes Anda. DIET
DAN PENGENDALIAN BERAT BADAN UNTUK MENGONTROL DIABETES Perencanaan makan yang dimaksud disini meliputi cara memilih makanan
yang sehat, makan dalam jumlah yang tepat, dan makan
makanan pada waktu yang tepat. Anda harus bekerja sama dengan
penyedia layanan kesehatan anda untuk mengetahui berapa banyak lemak,
protein, dan karbohidrat yang anda butuhkan dalam makanan anda. Rencana diet diabetes anda ini harus anda sesuaikan juga dengan
kebiasaan makanan dan selera makan anda. Menjaga berat badan ideal dan makan makanan yang seimbang adalah hal yang sangat
penting bagi penderita diabetes tipe 2. Beberapa orang dengan diabetes tipe 2 dapat bebas dari pengobatan setelah melakukan penurunan berat badan yang terukur, meskipun
diabetes masih ada. Konsultasikan pada dokter anda seberapa banyak makanan dan bagaimana pengaturannya pada dokter anda. Anda juga perlu berkonsultasi mengenai rencana penurunan berat badan anda pada dokter anda. Melakukan Latihan Fisik Secara Rutin Olahraga teratur merupakan hal penting bagi semua orang, terutama jika anda menderita
diabetes. Olahraga teratur membantu mengontrol jumlah
glukosa dalam darah. Hal ini juga membantu
membakar kelebihan kalori dan lemak sehingga anda dapat mengelola berat
badan Anda. Latihan meningkatkan
kesehatan secara keseluruhan dengan meningkatkan aliran darah dan
menjaga tekanan darah tetap normal. Olahraga rutin juga dapat mengurangi resistensi insulin bahkan tanpa
harus menurunkan berat badan. Latihan juga meningkatkan energi tubuh, menurunkan
ketegangan, dan meningkatkan kemampuan anda untuk menangani stres. Hal-hal yang harus dipertimbangkan ketika memulai latihan
rutin:
Konsultasikan dengan dokter anda sebelum memulai program olahraga.
Pilih aktivitas fisik yang menyenangkan yang
sesuai untuk tingkat kebugaran anda.
Latihan setiap
hari, dan pada waktu yang sama harinya, jika memungkinkan.
Monitor kadar glukosa darah sebelum dan sesudah
latihan.
Bawalah makanan yang mengandung karbohidrat sehingga anda dapat melakukan penanganan yang cepat jika mengalami hipoglikemia selama atau
setelah latihan
Minum cairan
tambahan yang tidak mengandung gula sebelum, selama, dan setelah
berolahraga.
Perubahan dalam
intensitas atau durasi latihan mungkin memerlukan modifikasi diet atau
obat-obatan untuk menjaga kadar glukosa darah dalam kisaran normal.
PENGOBATAN DIABETES TIPE 2 Ketika diet dan olahraga
tidak mampu menjaga kadar glukosa darah anda menjadi normal atau mendekati normal,
dokter akan mulai melakukan pemberian obat-obatan. Beberapa jenis obat yang paling umum
diberikan oleh dokter anda, adalah obata-obatan seperti dibawah ini:
Sulfonilurea (seperti
glimepiride, glyburide, dan tolazamide) memicu pankreas untuk membuat
insulin lebih banyak.
Biguanides (Metformin)
memicu hati untuk mengurangi produksi glukosa, yang meningkatkan
kadar glukosa dalam aliran darah.
Alpha-glucosidase inhibitor (seperti acarbose) menurunkan penyerapan karbohidrat dari
saluran pencernaan, sehingga menurunkan kadar glukose setelah makan.
Thiazolidinediones (seperti rosiglitazone) yang berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas sel
(responsiveness) terhadap insulin.
Meglitinides (termasuk repaglinide dan Nateglinide) memicu
pankreas untuk membuat insulin lebih banyak disesuaikan dengan kadar
glukosa dalam darah.
Jika dengan melakukan perubahan gaya hidup
dan pemberian obat-obatan seperti diatas tidak membantu anda dalam mengendalikan kadar gula anda, maka dokter akan mulai mempertimbangkan untuk meresepkan
insulin. Insulin juga dapat diberikan
jika anda memiliki reaksi buruk terhadap obat-obatan lainnya. Insulin harus disuntikkan di bawah kulit
menggunakan jarum suntik khusus dan tidak dapat diberikan lewat mulut (tablet). Ada beberapa jenis insulin yang sering diresepkan oleh dokter anda. Ada beberapa tipe insulin, biasanya dibedakan berdasarkan seberapa cepat
mereka mulai bekerja dan berapa lama mereka bekerja. Dokter anda akan menentukan jenis insulin yang tepat sesuai dengan kondisi anda dan
akan memberitahu waktu yang tepat untuk menggunakannya. Lebih dari satu jenis insulin dapat
dicampur dalam suntikan untuk mencapai kontrol glukosa
darah terbaik. Biasanya suntikan dibutuhkan satu sampai empat kali
sehari. Dokter atau pendidik diabetes
akan menunjukkan kepada Anda bagaimana melakukan
suntikan tersebut. Berikut adalah video contoh melakukan penyuntikan insulin.
Perawatan Kaki Pada Penderita Diabetes Tipe 2 Orang dengan
diabetes rentan terhadap masalah kaki. Diabetes dapat
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah anda, sehingga kulit kaki anda menjadi tidak sensitif terhadap rangsangan nyeri. Anda mungkin tidak menyadari kalau kaki anda terluka, sampai luka membesar atau muncul gejala infeksi. Diabetes juga dapat merusak pembuluh
darah, yang membuat tubuh lebih sulit untuk melawan infeksi. Untuk
mencegah cedera pada kaki, orang dengan diabetes harus membiasakan diri untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan kaki sebagai berikut:
* Periksa kaki Anda setiap hari, periksa ke dokter jika terjadi luka atau muncul tanda-tanda infeksi. * Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun kemudian keringkan seluruhnya. * Oleskan pelembab kulit atau body lotion. * Lindungi kaki pakai sepatu dan alas kaki yang pas * Latihan pada kaki untuk meningkatkan sirkulasi darah padakaki * Hubungi dokter bedah anda jika ada benjolan atau kapalan pada kaki anda * Berhenti merokok
karena memperburuk aliran darah ke kaki. Kapan Kontrol Ke Dokter Ahli Diabetes? Seseorang dengan diabetes tipe 2 harus
memiliki jadwal kunjungan yang rutin pada dokter penyakit dalam atau ahli endokrin setidaknya setiap 3 bulan. Biasanya dokter anda akan melakukan beberapa pemeriksaan, yang
meliputi pemeriksaan:
Hemoglobin
glikosilasi (HbA1c) adalah rata-rata kadar gula darah anda dalam 3 bulan. Tes ini mengukur seberapa banyak glukosa
telah menempel ke sel-sel darah merah dan sel-sel lainnya. Kadar HbA1c yang tinggi merupakan indikator untuk terjadinya risiko
komplikasi jangka panjang yang lebih tinggi. Saat ini, ADA merekomendasikan HbA1c kurang dari 7%
untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan kaki dan kulit
Pemeriksaan mata
Pemeriksaan Neurologis
Evaluasi
berikut harus dilakukan setidaknya setahun sekali:
* microalbumin acak (tes kadar protein urine) * BUN dan serum kreatinin * Serum kolesterol,
HDL, dan trigliserida * EKG * Retina dilated test Prognosis Diabetes Tipe 2 Risiko komplikasi diabetes jangka panjang dapat
dikurangi jika anda dapat mengontrol glukosa darah
dan tekanan darah dengan baik. Anda dapat mengurangi risiko kematian, stroke, gagal
jantung, dan komplikasi lainnya dengan mengendalikan kedua hal tersebut. Pengurangan kadar
HbA1c sebanyak 1% saja dapat menurunkan risiko komplikasi sebesar 25%.
Komplikasi Diabetes Tipe 2 Komplikasi diabetes dapat dibedakan menjadi 2, yaitu komplikasi yang memerlukan penangan segera dan komplikasi yang muncul secara perlahan-lahan.
Komplikasi
yang memerlukan penangan darurat meliputi syok hipoglikemia dan koma diabetes.Komplikasi jangka panjang termasuk:
* Diabetes retinopati
(penyakit mata) * Diabetes nefropati (penyakit ginjal) * Diabetes neuropati
(kerusakan saraf) * Peripheral vascular
disease (kerusakan pembuluh darah / sirkulasi) * Kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi,
atherosclerosis, dan penyakit arteri koroner Kapan anda harus segera datang ke UGD?Segera bawa diri anda ke UGD atau ke dokter anda jika Anda mengalami: * Gemetar * Kelemahan * Mengantuk *
Sakit kepala * Kebingungan * Pusing * Pandangan dobel
*
Kurangnya koordinasi Gejala-gejala ini dapat dengan
cepat berkembang menjadi kondisi darurat (seperti kejang-kejang,
pingsan, atau koma hipoglikemik).
Pencegahan Diabetes Tipe 2 Setiap orang yang berumur lebih dari 45 tahun harus rutin melakukan pemeriksaan glukosa darah setidaknya setiap 3 tahun. Pengujian rutin
glukosa darah acak harus dimulai pada usia muda dan dilakukan lebih
sering jika anda memiliki risiko untuk terjadinya diabetes. Menjaga berat badan yang ideal dan menjaga gaya hidup yang aktif akan membantu anda mencegah timbulnya
diabetes tipe 2.
Pencegahan Diabetes - Pria yang berolahraga angkat beban selain bermanfaat untuk memperbesar otot dan menyehatkan badan, ternyata olahraga ini juga mampu mencegah diabetes pada pria. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa olahraga angkat beban dapat melindungi pria terhadap diabetes tipe 2. Anda juga harus memperhatikan makanan yang bisa mencegah diabetes.
Penelitian,
yang diterbitkan secara online 6 Agustus di Archives of Internal
Medicine, melibatkan 32.000 pria dalam rentang waktu tahun 1999 - 2008. Peneliti dari Harvard
University di Boston dan University of Southern Denmark di Odense
bekerja sama untuk meneliti peranan olahraga dan latihan angkat beban dalam mengurangi resiko penyakit diabetes yang saat ini diperkirakan telah diderita oleh 346 juta orang di
seluruh dunia.Orang dengan diabetes tipe
2 tidak dapat mengontrol gula darah mereka karena tubuh mereka resisten
terhadap insulin, hal ini mungkin terjadi sebagai akibat dari obesitas karena peningkatan masa lemak
dalam tubuh membuat tubuh lebih sulit menggunakan insulin
dengan benar. Penelitian
sebelumnya menunjukkan latihan aerobik, seperti jogging atau berjalan,
dapat mengurangi risiko diabetes.Studi terbaru mengidentifikasi 2.278 orang
keluar dari sampel penelitian selama masa
studi. Setelah disesuaikan dengan faktor-faktor lain, seperti
kebiasaan menonton televisi, riwayat keluarga diabetes, merokok dan
diet, para peneliti mengkategorikan peserta kedalam tiga kelompok
sesuai dengan berapa banyak latihan angkat beban mereka dalam satu
minggu: antara 1 dan 59 menit, 60 dan 149 menit dan 150
menit atau lebih.Hasil analisis menunjukkan bahwa angkat beban
mengurangi risiko diabetes pada laki-laki sebesar 12 persen (latihan 1-59 menit), 25 persen (60-149 menit) dan 34
persen (150 menit atau lebih). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak waktu seseorang latihan beban, semakin baik perlindungan terhadap diabetes. Tidak mengherankan, para peneliti menemukan latihan
aerobik juga mengurangi risiko diabetes sebesar 7 persen, 31 persen dan
52 persen dalam tiga kelompok tersebut."Banyak orang mengalami kesulitan
melakukan atau mengikuti latihan aerobik," kata penulis studi Anders
Grontved, seorang peneliti gizi dan mahasiswa doktoral dalam
ilmu epidemiologi di University of Southern Denmark, dalam siaran
persnya. "Hasil ini menunjukkan bahwa latihan beban dapat berfungsi
sebagai alternatif untuk latihan aerobik untuk pencegahan diabetes Tipe 2."Subyek yang mengkombinasikan latihan angkat beban dan aerobik mendapatkan manfaat paling besar, dengan laki-laki yang melakukan 150 menit latihan aerobik
mingguan dan 150 dari mengangkat beban mengurangi risiko diabetes
sebesar 59 persen.Penelitian ini hanya meneliti pria sehingga Grontved
mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah efek
yang sama berlaku juga bagi perempuan.Studi co-atuhor Dr Frank Hu,
profesor gizi dan epidemiologi di Harvard School of Public Health
mengatakan bahwa peningkatan massa otot dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin
tubuh."Saya
pikir manfaat dari latihan beban adalah nyata," kata Hu Reuters. "Setiap jenis latihan bermanfaat untuk pencegahan diabetes, namun latihan beban dapat
digabungkan dengan latihan aerobik untuk mendapatkan hasil terbaik."Dalam sebuah komentar yang diterbitkan
dalam edisi jurnal yang sama, Dr Mitchell H. Katz, direktur Los Angeles
County Departemen Pelayanan Kesehatan mengatakan bahwa setiap dokter harus meresepkan
latihan untuk pasien mereka untuk mengurangi risiko kematian akibat diabetes. Mungkin hal yang sama juga harus dilakukan oleh dokter di Indonesia, meresepkan jenis dan jumlah latihan untuk pencegahan diabetes pada pasien-pasiennya.